Mengapa Memilih Susu Formula untuk Ibu Menyusui?

By | November 16, 2018

Terkadang pemberian susu formula untuk bayi baru lahir menjadi solusi dari beberapa kasus akan pemenuhan kebutuhan gizi bayi tersebut. Sebelum membahas lebih jauh, sebaiknya kita ketahui terlebih dahulu mengenai pengertian susu formula. Susu Formula untuk pertama kalinya diproduksi pada abad ke-19 dengan seorang ahli kimia Jerman yang bernama Von Liebig. Sekitar pada tahun 1867, susu formula sendiri mulai dipasarkan.

Pada mulanya, susu formula sendiri terbuat dari campuran susu sapi, tepung malt, dan juga tepung terigu. Kemudian campuran tersebut dimasak dengan sedikit penambahan kalium dan karbohidrat untuk mengurangi rasa masamnya. Semenjak itu, berbagai inovasi kerap dilakukan untuk membuat susu formula terbaik yang ada pada saat ini.

Sebenarnya, latar belakang pembuatan susu formula baru lahir adalah karena  banyaknya ibu ibu yang tidak dapat atau tidak mampu untuk menyusui bayinya. Berbagai alasan pun kerap menjadi pemicunya, mulai dari sang ibu yang meninggal dunia, sang ibu yang tak memiliki cukup ASI, hingga sang ibu yang teridentifikasi penyakit menular serius seperti HIV/AIDS. Tentunya pemberian susu formula juga karena adanya pilihan atau setelah adanya anjuran dari dokter yang lebih mengerti.

Untuk itu memilih susu formula untuk bayi tidaklah mudah, karena memang bayi masih belum boleh mendapatkan sembarang asupan disebabkan karena masih belum mampunya mencerna makanan dengan baik.

Tapi Mom, ternyata tak hanya bayi baru lahir saja yang harus diperhatikan untuk mengonsumsi susu. Untuk Ibu menyusui juga harus diperhatikan apabila memang diharuskan dan lebih memilih minum susu saat menyusui. Seperti yang kita ketahui bahwa susu mengandung banyak sekali nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Sama halnya dengan bayi baru lahir, ibu yang menyusui juga masih membutuhkan banyak nutrisi. Bahkan kebutuhan nutrisi saat menyusui akan lebih banyak dibandingkan dengan hamil. Namun, apakah setiap ibu menyusui harus meminum susu formula untuk ibu menyusui?

 

Jawabannya tentu tidak harus semua ibu yang menyusui wajib untuk mengonsumsi susu juga. Bila sang ibu sudah terpenuhi kebutuhan nutrisinya dengan makanan yang dikonsumsi, maka tak perlu lagi adanya tambahan susu. Meminum susu tentunya lebih memudahkan bagi ibu menyusui yang memang masih harus dibantu akan pemenuhan nutrisi dalam tubuhnya maupun untuk memperlancar produksi ASI yang nantinya akan diberikan kepada sang bayi.

Sebaiknya bagi moms yang ingin tetap meminum susu formula untuk ibu menyusui, tetap pertimbangkan hal hal berikut ini, seperti adanya :

  1. Kandungan kalsium. Karena selain Moms yang tentunya juga masih membutuhkan kalsium, bayi Moms juga membutuhkan kalsium untuk pertumbuhan tulang dan giginya. Kandungan nutrisi yang ada pada susu akan ikut terkeluarkan dengan ASI-nya saat menyusui.
  2. Kandungan Lemak. Lemak dibutuhkan pula oleh tubuh sebagai sumber energi. Tak terkecuali dengan ibu yang menyusui. Beberapa ibu juga harus membatasi asupan lemak yang dikonsumsinya, untuk itu pilihlah yang sesuai dengan anjuran ahlinya.
  3. Kandungan tambahan. Adanya kandungan tambahan seperti adanya ekstrak daun katuk juga menjadi pertimbangan dalam mengonsumsi susu ibu menyusui. Seperti yang diketahui, bahwa daun katuk dipercaya dari dulu untuk memperlancar ASI yang keluar.

Bila memang Moms sudah memutuskan untuk ikut meminum susu saat menyusui, sebaiknya pikirkan ulang bila memang muncul adanya reaksi maupun alergi pada diri sendiri maupun bayi Moms. Reaksi dan alergi yang biasanya terjadi pada bayi adalah:

  • Bayi sering muntah atau biasa disebut gumoh.
  • Feses pada bayi berlendir atau berdarah.
  • Feses pada bayi yang juga mengeras sehingga sulit untuk buang air besar.
  • Diare.
  • Bayi merasakan sakit diperutnya, seperti perut bayi yang mengalami kembung atau bergas.
  • Tidak mau makan atau minum ASI.

Jika memang bayi Anda mengalami hal yang demikian, tentunya segera hentikan dahulu konsumsi susu untuk ibu menyusui, karena bisa jadi bahwa bayi Anda mengalami alergi protein susu. Berkonsultasilah pada ahli untuk penanganan lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *